Jurnalis, Presiden Amerika berikutnya diprediksi tidak pro Israel

Sudah menjadi rahasia umum Amerika Serikat selalu pro Israel dalam kebijakan luar negerinya di Timur Tengah. Negeri Paman Sam punya sejarah panjang hubungan erat dengan Israel, terutama di masa kepemimpinan Presiden George Walker Bush.

Jurnalis, Presiden Amerika berikutnya diprediksi tidak pro Israel


Namun jurnalis peraih penghargaan bergengsi Pulitzer asal Amerika Serikat, Bret Stephens, menilai presiden AS berikutnya yang akan terpilih pada November mendatang tidak akan pro Israel.

“Menurut saya, kalau saya jadi pejabat Israel saya akan bilang, kita boleh saja berharap seperti itu tapi jangan langsung menganggap presiden AS nanti akan pro Israel, bahkan berpura-pura pro Israel,” kata dia kepada the Jerusalem Post Rabu lalu.

Stephens kini tengah melawat ke Negeri Bintang Daud untuk ikut dalam pertemuan Dewan Penasihat Internasional Institut Demokrasi Israel.

Menurut dia, presiden pengganti Barack Obama nanti akan lebih buruk bagi Israel.

“Obama akan selalu bilang, ‘Saya teman baik Israel’. Menurut saya dia jadi teman baik Israel ketika menghadapi masalah ringan seperti menyediakan pesawat untuk memadamkan kebakaran hutan atau mendanai Iron Dome,” kata dia.

“Tapi Obama bukan teman baik Israel ketika mayoritas warga Israel menolak kesepakatan perjanjian nuklir dengan Iran.”

Bagi Stephens masih terlalu pagi buat memperkirakan siapa pemenang pemilu presiden AS nanti.

Sebagai orang yang mengaku warga Yahudi Meksiko beraliran kanan dan kidal, Stephens meragukan bakal calon presiden AS, baik dari Partai Republik maupun Demokrat.

“Bernie Sanders bikin saya khawatir. Hillary Clinton juga. Donald Trump bikin saya khawatir, dan terus terang Ted Crus juga,” kata dia. “Bernie Sanders sangat Yahudi beraliran kiri, tidak terlalu bersimpati kepada Israel. Sedangkan Trump menurut saya tidak akan lolos nominasi, tapi kita lihat saja. Yang membuat saya khawatir adalah Clinton sangat dekat dengan Sidney Blumenthal, yang anaknya (Max), sangat antiSemit.”

Stephens berpendapat Iran lebih membahayakan di Timur Tengah ketimbang Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Namun dia memperingatkan dalam beberapa tahun ke depan akan ada lagi serangan ISIS semacam di Paris.

“ISIS tidak punya angkatan udara juga kemampuan memproduksi nuklir,” ujar Stephens. (Merdeka)
Source: beritaduniamiliter.blogspot