Aung San Suu Kyi Naik Pitam Ketika Ditanya Soal Muslim Rohingya

141

Peraih Nobel Perdamaian dan tokoh demokrasi Aung San Suu Kyi sempat terlihat naik pitam saat ditanya tentang Muslim Rohingya yang jadi sasaran kekerasan di Myanmar. Usai wawancara tersebut, Suu Kyi seakan menyayangkan bahwa yang mewawancarai dia adalah seorang reporter Muslim.

Diberitakan Independent, Sabtu (26/3), hal ini diungkapkan dalam buku biografi terbaru Aung San Suu Kyi yang ditulis oleh Peter Popham berjudul ‘The Lady And The Generals: Aung San Suu Kyi And Burma’s Struggle For Freedom’.

Berita Politik

Dalam wawancara dengan reporter Muslim BBC, Mishal Husain, tahun 2013 lalu, air muka Suu Kyi berubah ketika ditanya apakah dia mengecam kekerasan yang dilakukan oleh warga Buddha Myanmar terhadap Muslim Rohingya.

Suu Kyi menolak kekerasan terhadap Rohingya adalah bentuk “penghapusan etnis”. Dia mengatakan, yang mengalami ketakutan di Myanmar bukan hanya umat Muslim Rohingya, tapi juga warga Buddha di wilayah berkonflik.

“Ini yang perlu dunia pahami: Bahwa ketakutan tidak hanya ada dari sisi Muslim, tapi juga dari sisi Buddha,” kata Suu Kyi.

Suu Kyi tetap pada pendiriannya untuk tidak mengecam kekerasan yang membuat lebih dari 140 ribu Muslim Rohingya mengungsi ke negara lain, ratusan di antaranya tewas saat mengarungi lautan dengan kapal seadanya.

Asia Pasifik – Islam Demokrat

Husain, reporter keturunan Pakistan, yang beberapa kali memotong pernyataan Suu Kyi mendesak pemimpin partai Liga Nasional untuk Demokrasi agar mengutuk tindakan para ekstremis Buddha di Myanmar, terutama biksu radikal Wirathu. Suu Kyi akhirnya menyalahkan rezim diktator junta atas konflik tersebut.

“Saya kira ada banyak umat Buddha yang juga meninggalkan negeri ini karena alasan beragam, ini akibat penderitaan di bawah rezim diktator,” kata Suu Kyi.

Raut wajahnya yang tegang kembali normal ketika topik pertanyaan diubah menjadi soal keseharian Suu Kyi, bagaimana wanita itu beradaptasi pada perubahan statusnya, dari tahanan rumah menjadi warga negara yang bebas.

Wawancara ini menurut Popham membuat Suu Kyi berang dan melontarkan kalimat kemarahan, namun tidak terekam kamera BBC. Suu Kyi saat itu mengatakan: “Tidak ada yang bilang saya akan diwawancara oleh seorang Muslim.”

Suu Kyi menuai kritikan dari masyarakat internasional karena tidak mengecam kekerasan dan pembunuhan terhadap masyarakat Muslim Rohingya yang tanpa kewarganegaraan. Kelompok Buddha radikal pimpinan Wirathu yang disebut sebagai salah satu provokator dalam kekerasan itu.

NLD memenangkan pemilu dan akan memimpin pemerintahan Myanmar. Walau Suu Kyi tidak bisa menjadi presiden, namun dia diperkirakan tetap bisa mengendalikan pemerintah baru.

Masyarakat internasional berharap, di bawah kepemimpinan partai Suu Kyi, Myanmar bisa terlepas dari bayang-bayang represi junta dan tahanan politik segera dibebaskan. Suu Kyi juga sangat diharapkan memperbaiki catatan HAM Myanmar yang buruk, salah satunya soal perlakuan terhadap Rohingya.

Source : islamdemokrat.com

Informasi lanjutnya bisa baca di berita politik situs ini !!