Data Rahasian Pemesanan Kapal Selam India Dari DCNS Bocor

Perusahaan asal Prancis pembuat kapal selam yakni DCNS terancam kehilangan kerja sama bisnis, setelah beberapa data penting kontrak penyediaan kapal untuk Angkatan Laut India bocor ke publik. Lebih dari 22.000 halaman yang mengekspons informasi tentang rincian kemampuan kapal selam tempur jenis Scorpene class vessels bocor.

Data Rahasian Pemesanan Kapal Selam India Dari DCNS Bocor


Belum diketahui secara pasti siapa orang pertama yang mendapatkan dokumen-dokumen rahasia tersebut, seperti diberitakan oleh media Australia. Diketahui awal tahun ini DCNS telah memenangkan proyek besar untuk membangun armada kapal selam angkatan laut Australia senilai USD38,5 miliar dengan pesanan pembuatan 12 kapal selam canggih.

Sayang dengan bocornya data kapal selam DCNS, membuat kontrak kerja tersebut diyakini bakal terancam. Namun pihak perusahaan memastikan rincian tentang kapal selam Shortfin Barracuda yang akan dibangun buat Australia tidak termasuk dalam data-data rahasia yang bocor dan diketahui publik. Juru bicara DCNS menegaskan kasus kebocoran ini masalah serius dan menerangkan pemerintah Perancis secara resmi akan menyelidiki.

“Hal-hal yang berhubungan dengan India, tidak termasuk dalam bagian program kapal selam Australia yang beroperasi di bawah pantauan pemerintah Australia untuk melindungi data yang sensitif,” ucap sebuah pernyataan.

India sendiri diberitakan telah meneken kerja sama senilai USD3,5 miliar dengan penawaran membuat enam kapal selam jenis Scorpene vessels di 2005. Kapal selam  Scorpene merupakan jenis yang diklaim mampu digunakan pada perairan dangkal dan sudah dipakai beberapa negara seperti Malaysia dan Chile. Sedangkan Brazil dijadwalkan akan memesan kapal selam dengan tipe yang sama pada 2018.

Sebagai informasi DCNS mengalahkan pesaing kuat dari Jerman dan Jepang untuk mengamankan kontrak pembuatan kapal dengan Australia, yang diyakini menjadi proyek jangka panjang hingga 2050. Kapal selam Shortfin Barracuda akan dibangun di Adelaide dengan harapan menciptakan sekitar 2.800 pekerjaan baru di wilayah tersebut.

Sementara Perdana Menteri (PM) Australia Malcolm Turnbull mengatakan kebocoran adalah pengingat akan pentingnya keamanan dunia cyber, tapi dia menolak jika disebutkan hal tersebut akan membahayakan kontrak. Menteri Pertahanan Negara Christopher Pyne mengatakan, insiden kebocoran tidak akan membatalkan program kapal masa depan pemerintah Australia. (SindoNews)
Source: beritaduniamiliter.blogspot