Cerita Mahasiswa Asal Indonesia Yang Dirayu Masuk ISIS

Dalam mimpinya, Akbar Maulana (17) duduk gagah menunggang kuda dengan menenteng senjata laras panjang. Dia menggunakan seragam loreng khas militer. Dia bersama anak-anak muda lain dari berbagai negara bergabung dalam proyek besar, mewujudkan khilafah atau janji Allah terhadap umat Islam. Salah satu caranya, angkat senjata membela umat muslim yang tertindas di Suriah.

Mimpi itu semakin memperkuat tekadnya bergabung dalam pasukan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau negara Islam Irak dan Suriah. Dua kakak kelasnya di Imam Katip High School di Kayseri, Turki, sudah lebih dulu bergabung bersama pasukan Abu Bakr al-Baghdadi. Dia adalah Yazid Ulwan Falahuddin dan Wildan Mukhollad. Sinar matanya memancarkan kekaguman manakala melihat foto Yazid di laman facebooknya. Dengan pakaian hitam, Yazid nampak gagah memegang senjata AK-47. Akbar semakin terpesona dan takjub setelah membaca komentar di foto Yazid dan disukai para gadis.

“Wah gagahnya, dikomentari banyak ukhti-ukhti (perempuan). Lelaki mana yang tak iri melihat itu. Ke Suriah kayaknya keren lah,” ujar Akbar saat berbincang dengan merdeka.com akhir pekan lalu.

Kekagumannya pada foto itu membawa Akbar menjalin komunikasi intensif dengan Yazid. Dia mulai rajin chatting dengan kakak kelasnya itu. Apalagi, saat itu Akbar sedang dilanda badai ‘kegalauan’. Akbar yang saat itu duduk di kelas 2 SMA dan selalu menjadi juara kelas, dirundung kebosanan akan pelajaran dan aktivitas di sekolahnya. Apalagi anak muda sepertinya selalu merasa perlu tantangan baru dalam pencarian jati diri. Batinnya semakin kuat mendorong untuk menjadi jihadis. Dalam kepalanya berkumandang ‘Isy Kariman aw Mut Syahidan’ atau hidup mulia atau mati syahid. Slogan itu terdengar heroik bagi Akbar. Slogan ini pula yang selalu diucapkan para jihadis dan teroris.

Kata-kata Yazid membius Akbar. Tak hanya dengan kata-kata, Yazid juga mencekoki Akbar dengan video umat muslim dan anak-anak Suriah selalu jadi korban kekerasan dan pembantaian. Video itu dikirim Yazid ke Akbar secara terus menerus. Yazid berpesan, bukan lelaki jika tidak membela umat yang tertindas di Suriah.

Rayuan maut Yazid berhasil. Keinginan Akbar menjadi jihadis semakin tak terbendung. Akbar mengutarakan niatnya itu. Yazid menyambut penuh suka cita. Dia bahkan menjanjikan semua perlengkapan dan keperluan Akbar akan disediakan. Tidak hanya itu, Yazid juga menjanjikan fasilitas penjemputan jika Akbar sudah melewati perbatasan Turki dan Suriah yang saat itu belum dijaga terlalu ketat.

“Apalagi ada yang mengatakan jikalau engkau mati syahid maka dijanjikan surga dan katanya kita akan menikah dengan 72 bidadari. Makin lah ingin ke sana,” ucapnya.

Alasan lain yang membuatnya ingin mengangkat senjata bersama para jihadis adalah game online yang sering dimainkan di warnet bersama Yazid. Sebelum Yazid bergabung bersama ISIS, dia sering bermain game perang bersama Akbar. Game itu peperangan antara teroris dengan polisi. Akbar terpicu menjadikan permainan itu menjadi kenyataan.

Setelah mencari informasi untuk hijrah ke Suriah, dia tinggal bicara dengan orangtuanya yang tinggal di Aceh. Hatinya goyah ketika mengingat sosok ayah dan ibunya. Dia yakin mereka takkan mengizinkannya berjihad dengan angkat senjata. Apalagi Akbar mendapat beasiswa ke Turki untuk belajar, bukan gabung dengan ISIS. Dia tak ingin mengecewakan keduanya.

Yazid mencoba meyakinkan Akbar bahwa berjihad tanpa izin orangtua pun diperbolehkan dalam hadist. Yazid memberikan Akbar ayat-ayat Alquran yang menyatakan itu. Akbar tidak pernah mendengar ayat itu. Dia sadar bahwa itu ternyata tafsir yang salah dari Yazid. Meskipun berjihad itu benar, tapi tak ada artinya tanpa ridho orangtua. Pemuda asal Aceh itu teringat pesan nabi, kembalilah ke orangtuamu dan buatlah mereka tersenyum.

Titik balik itu terjadi di sebuah restoran kebab di jantung ibu kota Turki. Saat menunggu kereta untuk menyeberang ke Suriah, Akbar mampir ke toko Kebab. Di sana dia bertemu dengan Noor Huda Ismail, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian yang juga pengamat terorisme. Mengetahui Akbar adalah warga negara Indonesia, Huda langsung mentraktirnya makan kebab. Sambil menyantap makanan khas Turki itu, Akbar menceritakan rencananya menyeberang ke Suriah. “Awalnya saya pikir dia mata-mata. Celana jeans, rambut cepak,” katanya.

Huda terkejut setelah mendengar cerita Akbar ingin bergabung dengan ISIS hanya karena terpesona foto kakak kelasnya menenteng AK-47. Huda yakin, Akbar dan banyak anak muda lain bergabung dengan ISIS bukan bertujuan menjadi teroris yang menebar ancaman gangguan keamanan. Kebanyakan dari mereka bergabung karena ingin terlibat dalam proyek besar mewujudkan khilafah. Mereka yang pergi berjihad sesungguhnya memiliki sifat welas asih ketika melihat video penyiksaan anak-anak Turki. Kasus Akbar membuka matanya, ada pula anak muda yang terdorong bergabung dengan ISIS karena kegundahan hati dalam pencarian jati diri.

“Kita tak bisa samakan motif semua orang. Akbar yang alay itu kan karena dia lihat foto kakak kelasnya di-like banyak teman. Saya ketemu dia saat umurnya masih 16 tahun. Anak muda yang galau mencari jati diri. Akhirnya banyak anak yang seperti itu berangkat ke sana (Suriah),” ujar Huda.

Mereka yang terlibat dalam gerakan radikalisme dewasa ini rata-rata adalah kelompok alternatif yang umurnya 16-22 tahun. Kelompok usia ini dinilai rawan bergabung dengan kelompok-kelompok radikal. Virusnya bisa menyebar melalui berbagai cara.

“Amat sangat rawan, bisa melalui teman-teman, media sosial. Padahal di media sosial itu kan batas antara nyata dan tak nyata tipis. Di kita, yang terjadi di sosial media terjadi juga di dunia nyata,” katanya.

Huda dan Akbar semakin sering bertemu dan berdiskusi. Huda menjelaskan kondisi yang sebenarnya terjadi di Suriah. Termasuk soal ISIS. “Dia (Huda) nasihati saya. Dia berbagi cerita, beri penyadaran. Dari situ akhirnya saya memilih tidak jadi pergi (ke Suriah),” kata Akbar. (Merdeka)
Source: strategi-militer.blogspot