Setelah Mempelajari Berbagai Agama, Model Cantik Alizia Kim-pun Bersyahadat: "Banyak Hal TIDAK MASUK AKAL Dalam Kristen !"

Assalamu’alaikum. Sebenarnya sulit sekali untuk memulai menulis apa yang ingin aku ceritakan tentang awal mula aku masuk Islam. Tapi baiklah, aku mulai saja dengan memperkenalkan diri.

Namaku Aliza. Kehidupanku secara umum tak berbeda dengan kehidupan orang lain. Hanya saja, aku memunyai pengalaman hidup yang cukup beragam. Mulai dari sekolah, aku sudah pernah bersekolah di tempat yang paling buruk dan juga tempat yang terbaik di dunia.

Aku juga sudah pernah merasakan perjalanan keliling dunia lebih dari 10 negara. Untuk pekerjaan, aku pernah bekerja di berbagai bidang dan menjadi apa saja mulai dari pelayan hingga anggota senior satu korporat besar. Menjadi penerjemah untuk militer dan model papan atas juga sudah pernah kualami.

Kehidupanku adalah perpaduan antara kerja keras, petualangan, perjuangan dan sedikit ada glamornya. Aku sering menjadi model kover beberapa majalah. Pada saat yang sama, majalah-majalah lain mengulas profilku di rubrik utama.

Tapi ada satu masa yang benar-benar berbeda. Setahun sebelum masuk Islam, aku memutuskan untuk menjauh dari hal-hal duniawi. Duniaku tak lagi dalam jangkauan blitz kamera. Duniaku dikelilingi oleh teman-teman yang baik hati. Dalam kondisi ini, aku menemukan kedamaian. Ya…kedamaian dan kebenaran yang kudapatkan pada agama yang tidak kukenal sebelumnya.

Akhirnya aku menemukan agama yang damai, tulus dan penuh rasa hormat. Uniknya, agama ini ‘menyembah hanya 1 Tuhan’. Tuhan yang sama dengan yang disembah oleh Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, Daud dan Yesus/Isa. Tuhan yang sama yang aku sembah sebagai seorang penganut Kristiani yang taat selama ini. Agama ini juga agama yang paling banyak disalahpahami berkaitan dengan beberapa kejadian akhir-akhir ini.

Awal aku belajar Islam karena aku ingin semakin meningkatkan keimananku pada iman Kristen. Saat itu aku dalam kondisi terpuruk. Aku butuh pegangan yang kuat dalam iman Kristen. Siapa yang menduga ternyata pencarian itu malah mengantarkanku pada iman Islam baik sebagai agama maupun way of life.

Aku menemukan Islam bukan melalui media yang banyak salah dalam pemberitaannya. Aku menemukan Islam melalui sejarawan, ilmuwan, pemangku jabatan dalam Kristiani, ahli Bible/injil, Syeikh, dan beberapa teman muslim. Di antara itu semua yang paling utama adalah apa yang kurasakan dalam hatiku tentang kebenaran dan agama Islam.

Masa lalu yang suram, bahkan sering aku dalam kondisi kelaparan dan menjadi gelandangan, membuatku bertekad untuk menjadi orang sukses. Di sekolah, aku selalu menjadi murid yang berprestasi dan mendapat beasiswa. Saat ini pun aku mempunyai double gelar setingkat sarjana yaitu di bidang Ekonomi dan Sosiologi. Gelar Magister kuraih di bidang Bisnis Internasional.

Aku yang aslinya mempunyai sifat pendiam dan introvert, mulai mengubah diri dan bertekad menjadi yang terbaik dalam bidang apa pun yang kupilih. Aku pun aktif di berbagai organisasi, menjadi ketua pelajar, aktivis kampus, prestasiku diakui hingga berhasil membawaku ke Pentagon di Washington DC. Setelah menyabet gelar MBA, aku mendapat pekerjaan yang dalam waktu singkat membawaku ke posisi Marketing Direktur di usia sangat muda.

Sekilas, orang melihat kehidupanku baik-baik saja. Semua seolah berjalan dengan lancar dan sangat mudah. Tapi sesungguhnya di dalam jiwaku, kondisiku hancur berkeping-keping. Aku pernah berada di titik kritis mengidap depresi. Banyak keputusan buruk yang kuambil untuk bisa melalui semua ini. Kesuksesanku di bidang model tidak serta merta membuatku bahagia. Bahkan aku pernah memutuskan menjadi model yang begitu banyak mengeksploitasi tubuhku. Astaghfirullah.

Saat itu aku memang merasa bebas dan merdeka. Ditambah dengan gaya hidup glamor dari satu pesta ke pesta yang lain, untuk sesaat aku mengira aku bahagia. Tapi saat sendiri, aku merasa kosong dan sepi. Rasanya bukan hidup seperti ini yang kuinginkan. Aku kangen dengan kehidupanku yang tenang dan jauh dari kebisingan. Aku rindu dengan diriku yang dulu sebelum aku menjadi model terkenal. Dan akhirnya aku memutuskan meninggalkan dunia tersebut beserta teman-teman yang ada di sana.

Inilah awal dari perjalananku hingga akhirnya menemukan Islam.

Alizia Kim: Belajar Nabi-nabi dalam Islam seperti Mengenal Nabi-nabi dalam Kristen.

Bismillah. Setelah melewati sekian banyak kesulitan hidup yang akhirnya membawaku kepada kesuksesan duniawi, aku masih merasa kosong. Aku ingin memiliki kehidupan yang tenang, damai, dan patuh kepada Tuhan. Tapi Tuhan seperti apakah yang harus kupatuhi?

Pertanyaan inilah yang mengantarkanku kepada proses mendalami agama Kristen dengan lebih tekun. Berbagai aliran dan sekte Kristen aku pelajari. Nihil. Selain banyak hal tak masuk akal, banyak hal pula yang membuatku semakin ragu terhadap agama yang kucintai dan kupeluk sejak lahir ini. Hingga satu hari, salah satu teman bertanya padaku, “Sudahkah kamu mempelajari Islam?”

Inilah pertanyaan menggelitik yang kemudian menuntun langkahku untuk mempelajari Islam. Sebelumnya aku telah mempelajari Kristen dan sedikit tentang Yudaisme, kenapa tidak Islam sekalian? Bukankah Islam juga agama samawi yang mempunyai akar yang sama dengan Kristen dan Yudaisme?

Aku pun mulai membaca tentang Islam terus-menerus seolah tak mampu untuk berhenti. Kesimpulanku adalah Islam itu agama penyerahan diri total kepada satu Tuhan. Menjadi Muslim adalah menjadi orang yang menyerahkan dirinya total kepada satu-satunya Tuhan, tak ada yang lain. Itu artinya Ibrahim, Yesus dan semua Nabi adalah Muslim karena mereka menyerahkan dirinya kepada satu Tuhan. Hmmm…bila penekanan terhadap penyembahan satu Tuhan ini begitu kuat di dalam Islam, artinya harus ada satu-satunya cara yang benar untuk menyembah satu Tuhan ini, kan?

Wow…ini sepertinya mengarah kepada apa yang kucari.

Berikutnya aku membaca banyak tentang Nabi-nabi dalam Islam. Dan sosok mereka begitu akrab denganku karena tidak berbeda jauh dengan apa yang ada di dalam ajaran Kristen. Uniknya, tak butuh waktu lama bagiku untuk langsung bisa memahami dan menerima cara Muslim menyembah Tuhannya.

Ada sekitar 12 buku yang kubaca dalam proses pencarianku ini. Dua buku yang terakhir sebelum aku memutuskan bersyahadah adalah buku tentang Universalitas Islam (Islam ternyata cocok dan sesuai untuk semua ras, budaya, dan panduan hidup bagi semua), dan kumpulan kisah orang-orang yang menemukan jalan kebenaran Islam. Ketika aku membaca kisah mereka, aku merasa seolah bercermin. Saat itu airmata turun begitu deras membersamai kisah mereka dalam menemukan hidayah Islam. Itulah titik dimana aku tahu bahwa aku telah menemukan apa yang kucari selama ini.

Baiklah, kebenaran itu telah kutemukan. Lalu apa selanjutnya?

Tak ada keraguanku tentang Islam. Tapi aku mempunyai banyak masalah yang harus kuhadapi bila mengambil keputusan sebesar ini. Orang tua, teman-teman, lingkungan sosial, bahkan pekerjaanku. Siapkah aku dengan reaksi dan konsekuensinya apabila aku masuk Islam secara formal?

Darimana aku dapat uang bila aku masuk Islam dan memakai hijab karena memang itulah yang seharusnya dipakai seorang muslimah? Tapi bila memang Tuhan telah menunjukkanku jalan kebenaran ini, Dia pasti akan menjaga dan memeliharaku. Lagipula, bila keputusan masuk Islam ini akan menjadikanku sosok yang lebih baik entah sebagai seorang anak, seorang teman, atau sebagai pribadi maka masa iya mereka tidak mau menerimaku?

Keyakinan untuk menjadi Muslim semakin menguat, aku pun merasa membutuhkan Al Quran yang berbahasa Inggris. Saat ngobrol dengan salah satu ustadz yang memberiku Al Quran itulah, aku kembali menangis dengan hati yang ‘luka’. Tapi hati yang ‘luka’ itulah yang membawaku untuk bersyahadat secara formal saat itu juga.

Begini ceritanya. Ustadz ini tahu bahwa aku telah mempelajari Islam dengan mendalam. Ketika memberiku Al Quran, ustadz itu bilang padaku, “Kenapa kamu tidak sekalian saja masuk Islam?”

Karena makna Islam adalah penyerahan diri yang total kepada satu Tuhan dan aku mempercayainya, maka aku merasa bahwa aku sudah masuk Islam dan menjadi Muslim. Maka aku pun menjawab, “Saya sudah masuk Islam.”

“Kamu belum masuk Islam.”

Kata-kata inilah yang membuatku terpukul dan kemudian menangis. Rasanya ada yang menyayat hatiku saat ada yang menolak mengakui bahwa aku adalah seorang Muslim. Saat itulah aku baru tahu bahwa untuk menjadi Muslim itu tidak cukup hanya dengan menerima dalam hati saja. Dibutuhkan pelafalan berupa ikrar syahadat untuk masuk Islam sebenarnya. Akhirnya, satu jam kemudian aku pun berikrar syahadat dan resmi menjadi Muslim.

Setelah bersyahadat itulah, aku merasakan sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasa telah melewati proses pembersihan. Aku merasa suci, ringan, damai dan bahagia yang tulus. Perpaudan rasa yang sedari dulu kurindukan. Aku tahu bahwa rasa ini akan menjadi milikku mulai hari ini dan seterusnya bahkan hingga aku mati, insya Allah. Alhamdulillah untuk hidayah ini, ya Allah. (riafariana/dbs/voa-islam.com).

Sumber :
http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2016/10/24/46907/mualaf-alizia-kim-kesuksesan-membuat-jiwaku-kosong-bagian-1-dari-2/
http://www.voa-islam.id/read/muslimah/2016/10/30/47013/alizia-kim-belajar-nabinabi-dalam-islam-seperti-mengenal-kristen-bagian-2-dari/

Source: duniamuallaf.blogspot